Penerimaan Proposal GEF SGP Indonesia Periode April 2012

Prioritas Issue: Konservasi Keanekaragaman Hayati, Bahan Pencemar Organik yang Persisten, Perubahan Iklim, Degradasi Lahan dan Perairan Internasional

Waktu tenggat pengiriman proposal: 20 April 2012

Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia adalah program pendanaan lingkungan yang didukung oleh GEF dan dilaksanakan oleh UNDP mewakili lembaga-lembaga pelaksana GEF lainnya termasuk Bank Dunia dan UNEP.

Sekretariat Nasional GEF SGP Indonesia membuka undangan mengirimkan proposal dalam rangka pelaksanaan operasional GEF OP5 Y1. Untuk tahun ini, GEF SGP Indonesia menerima alokasi pendanaan dari System for Transparent Allocation of Resources (STAR) untuk mendukung inisiatif lembaga swadaya masyarakat, kelompok perempuan, lembaga masyarakat adat dan kelompok masyarakat lain untuk mengatasi tantangan lingkungan melalui upaya konservasi keragamaan hayati, perubahan iklim dan degradasi lahan.

Dana hibah yang diberikan berkisar USD 2,000 – 50,000 untuk masa pelaksanaan maksimal 24 bulan. Mohon diperhatikan untuk kontribusi masyarakat dalam perencanaan biaya, baik itu berupa jasa (natura) atau dana yang digerakkan oleh masyarakat agar memenuhi syarat dana dampingan GEF SGP dengan perbandingan 1:1. Dana dampingan atau kontribusi dari pengaju proposal ini dimaksudkan untuk menekankan kemandirian dan memberikan jaminan keberlanjutan program. Hanya lembaga yang memiliki kontribusi dan swadaya yang akan diberi nilai lebih dalam proses seleksi.

GEF SGP Indonesia mendorong kemitraan langsung dengan masyarakat adat, kelompok perempuan dan kelompok rentan lainnya dalam upaya menghadapi ancaman-ancaman ekologis sesuai dengan kriteria GEF. Program dana hibah kecil GEF SGP berusaha dengan cara-cara yang kreatif dan inovatif untuk membuka akses kepada kelompok yang tidak fasih membaca dan menulis dengan pengajuan proposal video ataupun proposal tertulis dengan gambar (foto bersuara atau power point presentation) dalam bahasa daerah dengan rekomendasi penyusunan rencana program yang partisipatif dan menghormati kemampuan dan kearifan lokal. Program ini bertujuan untuk memberikan fasilitas pendanaan kepada kelompok masyarakat dan lembaga swadaya yang sedang menghadapi tantangan ekologis dengan cara-cara dan teknologi yang inovatif, mandiri dan terjangkau melalui pengelolaan sumberdaya yang berkelanjutan. GEF SGP Indonesia mendorong para pengaju proposal untuk mengajukan kegiatan yang mencakup issue perubahan iklim dalam analisa ancaman ekologis dan cara penanggulangan ancaman secara kolektif.

Sekretariat Nasional GEF SGP Indonesia mengundang organisasi kampung, kelompok masyarakat adat, kelompok perempuan dan LSM untuk mengirimkan konsep kegiatan dan proposal untuk alokasi dana hibah kecil tahun 2012.

Tanggal terakhir penerimaan proposal adalah 20 April 2012. Mohon melihat format atau ketentuan proposal dengan baik, untuk melihat fokus area, kriteria, budget dan detail lainnya. Mohon merujuk ke www.sgp-indonesia.org atau dan menyimak halaman Panduan untuk lebih lengkapnya. Hanya lembaga yang terpilih dalam seleksi yang akan dihubungi untuk proses selanjutnya.

Mohon mengirimkan proposal dan/atau berkomunikasi ke email ke : info@sgp-indonesia.org, atau melalui pos:

Koordinator Nasional GEF SGP Indonesia

d/a Yayasan Bina Usaha Lingkungan

Jl. Bacang II no 8, Kramat Pela

Jakarta Selatan 12130

Telepon 021 720 6125/727 90520/726 6341

Fax 021 726 6341

NB: Kami tidak menerima telepon atau komunikasi langsung, mohon mengirimkan proposal via email atau pos. Terimakasih.

Panduan

BAB I

PENDAHULUAN

Pemanasan global atau Global Warming adalah adanya proses peningkatan suhu rata-rata atmosferlaut, dan daratan Bumi.

Suhu rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat 0.74 ± 0.18 °C (1.33 ± 0.32 °F) selama seratus tahun terakhir.Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa, “sebagian besar peningkatan suhu rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia”[1] melalui efek rumah kaca. Kesimpulan dasar ini telah dikemukakan oleh setidaknya 30 badan ilmiah dan akademik, termasuk semua akademi sains nasional dari negara-negara G8. Akan tetapi, masih terdapat beberapa ilmuwan yang tidak setuju dengan beberapa kesimpulan yang dikemukakan IPCC tersebut.

Model iklim yang dijadikan acuan oleh projek IPCC menunjukkan suhu permukaan global akan meningkat 1.1 hingga 6.4 °C(2.0 hingga 11.5 °F) antara tahun 1990 dan 2100.[1] Perbedaan angka perkiraan itu disebabkan oleh penggunaan skenario-skenario berbeda mengenai emisi gas-gas rumah kaca di masa mendatang, serta model-model sensitivitas iklim yang berbeda. Walaupun sebagian besar penelitian terfokus pada periode hingga 2100, pemanasan dan kenaikan muka air lautdiperkirakan akan terus berlanjut selama lebih dari seribu tahun walaupun tingkat emisi gas rumah kaca telah stabil. Ini mencerminkan besarnyakapasitas panas dari lautan.

Meningkatnya suhu global diperkirakan akan menyebabkan hasil dari perkebunan menurun, sehinnga akan berakibat fatal kepada ekonomi suatu Negara. Seperti Di India para petani perkebunan kopi  terpaksa memindahkan lahan perkebunannya ke daerah pegunungan, otomatis para petani perkebunan tersebut akan merusak hutan disekitar pegunungan tersebut, sehingga luas hutan akn semakin berkurang.

Beberapa hal-hal yang masih diragukan para ilmuwan adalah mengenai jumlah pemanasan yang diperkirakan akan terjadi di masa depan, dan bagaimana pemanasan serta perubahan-perubahan yang terjadi tersebut akan bervariasi dari satu daerah ke daerah yang lain. Hingga saat ini masih terjadi perdebatan politik dan publik di dunia mengenai apa, jika ada, tindakan yang harus dilakukan untuk mengurangi atau membalikkan pemanasan lebih lanjut atau untuk beradaptasi terhadap konsekuensi-konsekuensi yang ada. Sebagian besar pemerintahan negara-negara di dunia telah menandatangani dan meratifikasi Protokol Kyoto, yang mengarah pada pengurangan emisi gas-gas rumah kaca.

BAB II

PERMASALAHAN

Dalam makalah ini kita akan membahas :

  1. Dampak Pemansan Global Warming Terhadap Perkebunan
  2. Pengendalian Pemanasan Global

Permasalahan Ini Akan Terjawab Dalam Bab III

BAB III

PEMBAHSAN

DAMPAK PEMANSAN GLOBAL WARMING TERHADAP PERKEBUNAN

Sebagai sebuah fenomena global, dampak pemanasan global dirasakan oleh seluruh umat manusia di dunia, termasuk Indonesia. Posisi Indonesia sebagai negara kepulauan, menempatkan Indonesia dalam kondisi yang rentan menghadapi terjadinya pemanasan global. Sebagai akibat terjadinya pemanasan global, Indonesia akan menghadapi peristiwa :

Pertama, Kenaikan temperatur global, menyebabkan mencairnya es di kutub utara dan selatan, sehingga mengakibatkan terjadinya pemuaian massa air laut, dan kenaikan permukaan air laut.  Naiknya permukaan air laut akan mengakibatkan pulau-pulau kecil dan daerah landai di Indonesia akan hilang.  Ancaman lain yang dihadapi masyarakat yaitu memburuknya kualitas air tanah, sebagai akibat dari masuknya atau merembesnya air laut, serta infrastruktur perkotaan yang mengalami kerusakan, sebagai akibat tergenang oleh air laut.

Kedua, Pergeseran musim sebagai akibat dari adanya perubahan pola curah hujan.  Perubahan iklim mengakibatkan intensitas hujan yang tinggi pada periode yang singkat serta musim kemarau yang panjang. Di beberapa tempat terjadi peningkatan curah hujan sehingga meningkatkan peluang terjadinya banjir dan tanah longsor, sementara di tempat lain terjadi penurunan curah hujan yang berpotensi menimbulkan kekeringan. Sebagian besar Daerah Aliran Sungai (DAS) akan terjadi perbedaan tingkat air pasang dan surut yang makin tajam.  Hal ini mengakibatkan meningkatnya kekerapan terjadinya banjir atau kekeringan.  Kondisi ini akan semakin parah apabila daya tampung badan sungai atau waduk tidak terpelihara akibat erosi.        Selain itu juga meningkatnya suhu juga membuat penguapan yang tinggi, tidak hanya di laut tetapi juga di darat, maka terjadilah kekeringan. Kadar air uap air yang tinggi di atmosfer meningkatkan potensi terjadinya badai, saat badai melewati perairan yang hangat tadi maka badai akan semakin membesar. semua peristiwa tersebut akan menimbulkan dampak pada sektor perkebunan yang mengakibatkan :

  1. Jumlah kualitas dan kuantitas dari hasil perkebunan berkurang.
  2. Lahan hijau akan berkurang karna tumbuhan yang ditanam petani kebun mati.

Pengendalian pemanasan global

Konsumsi total bahan bakar fosil di dunia meningkat sebesar 1 persen per-tahun. Langkah-langkah yang dilakukan atau yang sedang diskusikan saat ini tidak ada yang dapat mencegah pemanasan global di masa depan. Tantangan yang ada saat ini adalah mengatasi efek yang timbul sambil melakukan langkah-langkah untuk mencegah semakin berubahnya iklim di masa depan.

Kerusakan yang parah dapat di atasi dengan berbagai cara. Daerah pantai dapat dilindungi dengan dinding dan penghalang untuk mencegah masuknya air laut. Cara lainnya, pemerintah dapat membantu populasi di pantai untuk pindah ke daerah yang lebih tinggi. Beberapa negara, seperti Amerika Serikat, dapat menyelamatkan tumbuhan dan hewan dengan tetap menjaga koridor (jalur) habitatnya, mengosongkan tanah yang belum dibangun dari selatan ke utara. Spesies-spesies dapat secara perlahan-lahan berpindah sepanjang koridor ini untuk menuju ke habitat yang lebih dingin.

Ada dua pendekatan utama untuk memperlambat semakin bertambahnya gas rumah kaca. Pertama, mencegah karbon dioksida dilepas ke atmosfer dengan menyimpan gas tersebut atau komponen karbon-nya di tempat lain. Cara ini disebut carbon sequestration (menghilangkan karbon). Kedua, mengurangi produksi gas rumah kaca.

Menghilangkan karbon

Cara yang paling mudah untuk menghilangkan karbon dioksida di udara adalah dengan memelihara pepohonan dan menanam pohon lebih banyak lagi. Pohon, terutama yang muda dan cepat pertumbuhannya, menyerap karbon dioksida yang sangat banyak, memecahnya melalui fotosintesis, dan menyimpan karbon dalam kayunya. Di seluruh dunia, tingkat perambahan hutan telah mencapai level yang mengkhawatirkan. Di banyak area, tanaman yang tumbuh kembali sedikit sekali karena tanah kehilangan kesuburannya ketika diubah untuk kegunaan yang lain, seperti untuk lahan pertanian atau pembangunan rumah tinggal. Langkah untuk mengatasi hal ini adalah dengan penghutanan kembali yang berperan dalam mengurangi semakin bertambahnya gas rumah kaca.

Gas karbon dioksida juga dapat dihilangkan secara langsung. Caranya dengan menyuntikkan (menginjeksikan) gas tersebut ke sumur-sumur minyak untuk mendorong agar minyak bumi keluar ke permukaan (lihat Enhanced Oil Recovery). Injeksi juga bisa dilakukan untuk mengisolasi gas ini di bawah tanah seperti dalam sumur minyak, lapisan batubara atau aquifer. Hal ini telah dilakukan di salah satu anjungan pengeboran lepas pantai Norwegiadimana karbon dioksida yang terbawa ke permukaan bersama gas alam ditangkap dan diinjeksikan kembali ke aquifer sehingga tidak dapat kembali ke permukaan.

Salah satu sumber penyumbang karbon dioksida adalah pembakaran bahan bakar fosil. Penggunaan bahan bakar fosil mulai meningkat pesat sejak revolusi industri pada abad ke-18. Pada saat itu, batubara menjadi sumber energi dominan untuk kemudian digantikan oleh minyak bumi pada pertengahan abad ke-19. Pada abad ke-20, energi gas mulai biasa digunakan di dunia sebagai sumber energi. Perubahan tren penggunaan bahan bakar fosil ini sebenarnya secara tidak langsung telah mengurangi jumlah karbon dioksida yang dilepas ke udara, karena gas melepaskan karbon dioksida lebih sedikit bila dibandingkan dengan minyak apalagi bila dibandingkan dengan batubara. Walaupun demikian, penggunaan energi terbaharuidan energi nuklir lebih mengurangi pelepasan karbon dioksida ke udara. Energi nuklir, walaupun kontroversial karena alasan keselamatan dan limbahnya yang berbahaya, bahkan tidak melepas karbon dioksida sama sekali.

Persetujuan internasional

Kerjasama internasional diperlukan untuk mensukseskan pengurangan gas-gas rumah kaca. Di tahun 1992, pada Earth Summit di Rio de JaneiroBrazil, 150 negara berikrar untuk menghadapi masalah gas rumah kaca dan setuju untuk menterjemahkan maksud ini dalam suatu perjanjian yang mengikat. Pada tahun 1997 di Jepang, 160 negara merumuskan persetujuan yang lebih kuat yang dikenal dengan Protokol Kyoto.

Perjanjian ini, yang belum diimplementasikan, menyerukan kepada 38 negara-negara industri yang memegang persentase paling besar dalam melepaskan gas-gas rumah kaca untuk memotong emisi mereka ke tingkat 5 persen di bawah emisi tahun 1990. Pengurangan ini harus dapat dicapai paling lambat tahun 2012. Pada mulanya, Amerika Serikat mengajukan diri untuk melakukan pemotongan yang lebih ambisius, menjanjikan pengurangan emisi hingga 7 persen di bawah tingkat 1990; Uni Eropa, yang menginginkan perjanjian yang lebih keras, berkomitmen 8 persen; dan Jepang 6 persen. Sisa 122 negara lainnya, sebagian besar negara berkembang, tidak diminta untuk berkomitmen dalam pengurangan emisi gas.

Akan tetapi, pada tahun 2001, Presiden Amerika Serikat yang baru terpilih, George W. Bush mengumumkan bahwa perjanjian untuk pengurangan karbon dioksida tersebut menelan biaya yang sangat besar. Ia juga menyangkal dengan menyatakan bahwa negara-negara berkembang tidak dibebani dengan persyaratan pengurangan karbon dioksida ini. Kyoto Protokol tidak berpengaruh apa-apa bila negara-negara industri yang bertanggung jawab menyumbang 55 persen dari emisi gas rumah kaca pada tahun 1990 tidak meratifikasinya. Persyaratan itu berhasil dipenuhi ketika tahun 2004, Presiden Rusia Vladimir Putin meratifikasi perjanjian ini, memberikan jalan untuk berlakunya perjanjian ini mulai 16 Februari 2005.

DAFTAR PUSTAKA

Bumi Makin Panas (booklet).  2004.  Diterbitkan oleh Kementerian Negara Lingkungan Hidup, JICA dan Yayasan Pelangi.

Indonesia dan Perubahan Iklim (booklet). Program Iklim dan Energi, WWF-Indonesia. www.wwf.or.id/climate

Climate Change Scenarios for Indonesia (leaflet). 1999.  Diterbitkan oleh Climatic Research Unit (CRU), UEA, UK dan WWF.

Perilaku Ramah Lingkungan. 2007.  Website WWF Indonesia : www.wwf.or.id

BAB I
PENDAHULUAN

Sejarah Pragmatisme
Aliran ini pertama kali tumbuh Di Amerika pada tahun 1878. Ketika itu Charles Sanders Pierce (1839 – 1914) menerbitkan sebuah makalah yang berjudul “How to Make Our Ideas Clear”.Namun pragmatisme sendiri lahir ketika William James membahas makalahnya yang berjudul ” Philosophycal Conceptions and Practical Result” (1898) dan mendaulat Pierce sebagai Bapak Pragmatisme.
Selanjutnya aliran ini makin berkembang berkat kerja keras dari William James dengan berbagai karya tulisnya. Karya tulisnya itu antara lain adalah, “A Pluralistic Essay”, “Essay in Radical Empiricism”, “The Will to Believe”, dan “The Varieties of Religious Experience”.
John Dewey juga ikut mengambil bagian dalam mempopulerkan aliran ini. Karya – karyanya antara lain adalah “Democracy and Education”, “Reconstruction in Philosophy”, “How We Think”, dan “Experience in Education”. Namun ia dan para pengikutnya lebih suka menyebut filsafatnya sebagai Instrumentalisme.

Konsep Pragmatisme
Pragmatisme berasal dari dua kata yaitu pragma dan isme. Pragam berasal dari bahasa Yunani yang berarti tindakan atau action. Sedangkan pengertian isme sama dengan pengertian isme – isme yang lainnya yang merujuk pada cara berpikir atau suatu aliran berpikir. Dengan demikian filsafat pragmatisme beranggapan bahwa fikiran itu mengikuti tindakan.
Pragmatisme menganggap bahwa suatu teori dapat dikatakan benar apabila teori itu bekerja. Ini berararti pragmatisme dapat digolongkan ke dalam pembahasan tentang makna kebenaran atau theory of thurth. Hal ini dapat kita lihat dalam buku William James yang berjudul The Meaning of Thurth.

Menurut James kebenaran adalah sesuatu yang terjadi pada ide. Menurutnya kebenaran adalah sesuatu yang tidak statis dan tidak mutlak. Dengan demikian kebenaran adalah sesuatu yang bersifat relatif. Hal ini dapat dijelaskan melalui sebuah contoh. Misalnya ketika kita menemukan sebuah teori maka kebenaran teori masih bersifat relatif sebelum kita membuktikan sendiri kebenaran dari teori itu.
Dalam The Meaning of The Truth (1909), James menjelaskan metode berpikir yang mendasari pandangannya di atas. Dia mengartikan kebenaran itu harus mengandung tiga aspek. Pertama, kebenaran itu merupakan suatu postulat, yakni semua hal yang di satu sisi dapat ditentukan dan ditemukan berdasarkan pengalaman, sedang di sisi lain, siap diuji dengan perdebatan. Kedua, kebenaran merupakan suatu pernyataan fakta, artinya ada sangkut pautnya dengan pengalaman. Ketiga, kebenaran itu merupakan kesimpulan yang telah diperumum (digeneralisasikan) dari pernyataan fakta.
Yang lebih menarik lagi adalah pragmatisme menjadikan konsekuensi – konsekuensi praktis sebagai standar untuk menentukan nilai dan kebenaran.

Menurut aliran ini hakikat dari realiatas adalah segala sesuatu yang dialami oleh manusia. Ia berpendapat bahwa inti dari realiatas adalah pengalam yang dialami manusia. Ini yang kemudian menjadi penyebab bahwa pragmatisme lebih memperhatikan hal yang bersifat keaktualan sehingga berimplikasi pada penentuan nilai dan kebenaran. Dengan demikian nilai dan kebenaran dapat ditentukan dengan melihat realitas yang terjadi di lapangan dan tidak lagi melihat faktor – faktor lain semisal dosa atau tidak.
Hal ini senada dengan apa yang dikataka James, “Dunia nyata adalah dunia pengalaman manusia.”

BAB II
PEMBAHASAN

Filsafat Pendidikan Pragmatisme
Pendidikan menurut pandangan pragmatisme bukan merupakan suatu proses pembentukan dari luar, dan juga bukan merupakan suatu pemerkahan kekuatan- kekuatan laten dengan sendirinya ( unfolding ), melainkan merupakan suatu proses reorganisasi dan rekonstruksi dari pengalaman- pengalaman individu, yang berarti bahwa setiap manusia selalu belajar dari pengalamannya.
Menurut Jhon Dewey ( Sadulloh, 2003 ), pendidikan perlu didasarkan pada tiga pokok pikiran yaitu :
1. Pendidikan merupakan kebutuhan untuk hidup
2. Pendidikan sebagai pertumbuhan
3. Pendidikan sebagai fungsi sosial

Hidup selalu berubah menuju pembaharuan hidup, karena itu pendidikan adalah merupakan kebutuhan untuk hidup. Pendidikan berfungsi sebagai sebagai alat dan sebagai pembaharuan hidup. Dalam hidupnya manusia selalu berinteraksi, inividu yang satu dengan individu yang lainnya, dan dengan lingkungannya. Orang yang sudah dewasa yang telah banyak memiliki pengalaman hidup berinteraksi dengan manusia muda yang masih belia dalam pengalaman hidup untuk mewariskan nilai- nilai budaya dan kebudayaan itu sendiri untuk kelangsungan hidup. Terjadilah pewarisan kebudayaan, nilai, pengetahuan, dan ketrampilan serta sikap hidup kepada generasi muda. Hal ini membawa pembaharuan hidup pada generasi muda, dan pembaharuan ini akan semakin pesat perubahannya oleh karena perubahan yang terjadi dalam hidup dan kehidupan manusia dengan pengaruh ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang semakin pesat perubahannya. Untuk mengisi dan melengkapi kehidupan yang selalu berubah dan perkembangan maka sangat di perlukan adanya pendidikan.

1. Pendidikan Sebagai Pertumbuhan.
Menurut Jhon Dewey ( sadulloh. 2003 ), pertumbuhan merupakan suatu perubahan tindakan yang berlangsung ters menerus untuk mencapai hasil lanjutannya. Pertumbuhan juga merupakan proses pematangan oleh karena peserta didik memiliki potensi berupa kapasitas untuk berkembang atau bertumbuh menjadi sesuatu dengan adanya pengaruh lingkungan.

Hidup selalu mengalami pertumbuhan danpertumbuhan diwarnai oleh aktivitas aktif , yang berati bahwa pertumbuhan akan dipengaruhi intetitas aktivitas individu yangmenimbulkan pengalaman yang akan membawa perubahan pada dirinya. Sehigga pertumbuhan merupakan karakteristik dari hidup, sedangkan pendidikan adalah hidupitu sendiri, bukan untuk suatu persiapan.

2. Pendidikan Sebagai Fungsi sosial
Menurut Jhon Dewey ( sadulloh.2003 ) lingkungan merupakan syarat bagi pertumbuhan, dan fungsi pendidikan merupakan suatu proses membingbing dan mengembangkan. Melalui kegiatan pendidikan masyarakat membingbing peseta didik yang maih belum matang menurut susunan sosial tertentu. Dalam keadaan yang belum matang peserta didik selalu berinteraksi dengan linkungan, selalu berhubungan dengan individu lainnya. Dalam aktivitas pendidikan selalu ada interaksi yang dapat mempengaruhi dan membimbing peserta didik dapat mengembangkan diri sebagai pribadi yang dipengaruhu dan mempengaruhi dalam situasi dan lingkungan sosial.
Sekolah sebagai suatu lingkungan pendidikan dan sekaligus sebagai alat tranmisi,memiliki tiga fungsi, yakni :
1. Menyederhanakan dan mengarahkan faktor – faktor bawaan yang diharapkan untuk berkembang.
2. Membingbing dan mengarahkan kebiasaan masyarakat yang ada sesuai dengan yang mengharapkan.
3. Menciptakan suatu lingkungan yang lebih luas, dan lebih baik yang diperuntukan bagi peserta didik untuk mengembangkan kemampuan mereka.

3. Tujuan Pendidikan
Filsuf paragmatisme berpendapat bahwa pendidikan harus mengajarkan seseorang tentang bagaimana berfikir dan menyesuaikan diri terhadap perubahan yang terjadi di dalam masyarakat. Sekolah harus bertujuan untuk mengembangkan pengalaman-pengalaman yang akan memungkinkan seseorang terarah kepada kehidupan yang baik. Tujuan-tujuan pendidikan tersebut meliputi
• Kesehatan yang baik
• Keterapilan-keterampian dan kejujuran dalam bekerja
• Minat dan hobi untuk kehidupan yag menyenangkan
• Persiapan untuk menjadi orang tua
• Kemampuan untuk bertransaksi secara efektif dengan masalah-masalah sosial

Tambahan tujuan khusus pendidikan di atas yaitu untuk pemahaman tentang pentingnya demokrasi. Menurut pragmatisme pendidikan hendaknya bertujuan menyediakan pengalaman untuk menemukan/memecahkan hal-hal baru dalam kehidupan peribadi dan kehidupan sosial.
2. Kurikulum
Menurut para filsuf paragmatisme, tradisis demokrasi adalah tradisi memperbaiki diri sendiri (a self-correcting trdition). Pendidikan berfokus pada kehidupan yang aik pada masa sekarang dan masa yang akan datang. Kurikilum pendidikan pragmatisme “berisi pengalaman-pengalaman yang telah teruji, yang sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa. Adapun kurikulum tersebut akan berubah”
3. Metode Pendidikan
Ajaran pragmatisme lebih mengutamakan penggunaan metode pemecahan masalah (problem solving method) serta metode penyelidikan dan penemuan (inquiri and discovery method). Dalam praktiknya (mengajar), metode ini membutuhkan guru yang memiliki sifat pemberi kesempatan, bersahabat, seorang pembimbing, berpandangan terbuka, antusias, kreatif, sadar bermasyarakat, siap siaga, sabar, bekerjasama, dan bersungguh-sungguh agar belajar berdasarkan pengalaman dapat diaplikasikan oleh siswa dan apa yang dicita-citakan dapat tercapai.

4. Peranan Guru dan Siswa

Dalam pembelajaran, peranan guru bukan “menuangkan” pengetahuanya kepada siswa. Setiap apa yang dipelajari oleh siswa haruslah sesuai dengan kebutuhan, minat dan masalah pribadinya. Pragmatisme menghendaki agar siswa dalam menghadapi suatu pemasalahan, hendaknya dapat merekonstruksi lingkungan untuk memecahkan kebutuhan yang dirasakannya.
Untuk membantu siswa guru harus berperan:
a. Menyediakan berbagai pengalaman yang akan memuculkan motivasi. Field trips, film-film, catatan-catatan, dan tamu ahli merupakan contoh-contoh aktivitas yang dirancang untuk memunculkan minat siswa.
b. Membimbing siswa untuk merumuskan batasan masalah secara spesifik
c. Membimbing merencanakan tujuan-tujuan individual dan kelompok dalam kelas guna
memecahkan suatu masalah
d. Membantu para siswa dalam mengumpulkan informasi berkenaan dengan masalah.
e. Bersama-sama kelas mengevaluasi apa yang telah dipelajari, bagaimana mereka mempelajarinya, dan informasi baru yang ditemukan oleh setiap siswa.

Edward J. Power (1982) menyimpulkan pandangan pragmatisme bahwa “Siswa merupakan organisme rumit yang mempunyai kemampuan luar biasa untuk tumbuh, sedangkan guru berperan untuk memimpin dan membimbing pengalaman belajar tanpa ikut campur terlalu jauh atas minat dan kebutuhan siswa”.

Callahan dan Clark menyimpulkan bahwa orientasi pendidikan pragmatisme adalah progresivisme. Artinya, pendidikan pragmatisme menolak segala bentuk formalisme yang berlebihan dan membosankan dari pendidikan sekolah yang tradisional. Anti terhadap otoritarianisme dan absolutisme dalam berbagai bidang kehidupan.

DAFTAR PUSTAKA

Syaripudin, Tatang. 2006. Pengantar Filsafat Pendidikan. Bandung: Percikan Ilmu.
Hardono Hadi, P. ( 1994 ). Hakikat dan Muatan Filsafat Pendidikan. Jakarta: Kanisius.
Jalaluddin, H. Dan Abdullah Idi. 1997. Filsafat Pendidikan. Manusia, Filsafat dan Pendidikan. Jakarta: Gaya Media Pratama.
Mudyahardjo, R. ( 2004 ). Filsafat Ilmu Pendidikan: Suatu Pengantar. Bandung: Putra Bardin
Sadulloh, Uyoh. 2003. Pengantar Filsafat Pendidikan. Bandung: CV.Alfabeta.
Suharton, S. I. (2005). Konsep dan Makna Pembelanjaran. Yogyakarta: Ar Ruzz Media..

• Generasi Frustasi
Artist : Iwan Fals
Generasiku banyak yang frustasi
Broken home istilah bule bule luar negeri
Mereka muak lihat papi mami bertengkar
Mereka jijik lihat papi mami selalu keluar

Ada urusan yang tak masuk diakal
Mami sibuk cari bujangan
Papi sibuk cari perawan

Timbang kesal lebih baik aku berhayal
Jadi orang besar seperti Hitler yang tenar
Jadi orang tenar persis Carter juragan kacang

Mata cekung badan persis capung
Tingkah sedikit bingung pikiran mirip mirip orang linglung
Rambut selalu kusut disuruh selalu manggut manggut
Duduk di sudut eh kasihan itu tubuh tinggal tulang sama kentut

Hei mister gelek
Lo tega mata gua kok nggak bisa melek
Hei mister gelek
Duit gopek gua kira cepek
Hei mister gelek
Perut laper ada tape pas gua sikat asem asem
Ndak taunya telek

Info : http://musiklib.org/Iwan_Fals-Generasi_Frustasi-Lirik_Lagu.htm